Wahai, Presiden kami yang baik,
Mungkin singgasanamu terlalu nyaman
Mungkin halaman istanamu terlalu luas sampai kau tak dengar gaduh di luar sana
Mungkin istrimu terlalu baik,,membuatkan teh hangat untukmu
Mungkin kau telah terlena..
Tak tahukah kau,
Di sini rakyatmu sedang perang
Perang melawan miskin yang terus mendera
Perang melawan kebijakanmu yang tidak pernah berpihak pada kami
Perang melawan saudara sendiri demi memperebutkan lahan untuk tidur
Perang melawan aparat mu yang selalu menindas dengan senjata yang kau beri
Dan hari ini,,
Kembali kami berperang
Padahal kami hanya ingin berpesta
Merayakan dan mengingatkanmu pada komitmen anti korupsi
Namun kembali saudara kami ditembaki
Dan dengan entengnya kau bilang, ini merupakan hal yang biasa di negara demokrasi
Apakah nyawa juga merupakan hal yang biasa dan tiada arti di negara demokrasi?
Presiden kami yang baik,
Belajarlah...
Itu saja..
12/10/2010
12/09/2010
Bayang
aku bertemu dengannya
aku sering menatapnya..dan berbicara dengannya..
ia selalu ada di setiap aku ada
lama kami bertatapan
dan perlahan tapi pasti
aku hilang
aku menyatu dengannya
dan kini hanya ada dia
bayangan dalam cerminku..
aku sering menatapnya..dan berbicara dengannya..
ia selalu ada di setiap aku ada
lama kami bertatapan
dan perlahan tapi pasti
aku hilang
aku menyatu dengannya
dan kini hanya ada dia
bayangan dalam cerminku..
Bunda
Tentangnya..
Ini semua tentangnya..
Sekalipun segala rasa adalah bahasa tak beraksara
Namun akan ku coba menggoreskan kata demi kata untuk menggambarkan sosoknya dan kecintaanku padanya
Sebuah kecintaan yang luar biasa dahsyat
Padanya..hanya untuknya..
Ia…,
Melebur dalam daging..
Mengalir dalam darah..
Menyatu dalam ruh..
Membara bersama hasrat diri..
Terbungkus erat dalam naungan raga
Tatapannya bening embun
Sentuhannya meredam segala api dalam dada
Kecupnya adalah Firdaus
Angin pagi pun tak mampu menandingi sejuk nafasnya…
Dulu aku sering bertanya-tanya ; manusia macam apa ia?
Manusia langit yang dikirim oleh Sang Batara??
Manusia suci laksana Nabi?
Entahlah,,
Tak peduli lagi aku pada pertanyaan itu
Tak peduli lagi aku pada kata mereka
Kecintaanku mengabaikan segala
Oohh,,
Aku mencintainya..
Aku sangat mencintainya..
Ia Dewi alam semestaku..
Wahai, Sang Pemilik Kerajaan Langit
Izinkan aku memilikinya..
..selamanya..
…
Aku mencintaimu, Bunda…
Saat adzan Shubuh berkumandang,
20November 2010
12/08/2010
kita dan mereka
Ada saat kita mendengar
Ada saat kita bicara
Ada saat kita mendengar tidak dengan telinga
Ada saat kita bicara tidak dengan mulut
Dan ada saat kita harus mempertemukan hati
Kau dan dia, aku dan dia, kau dan aku
Kita dan mereka
Langganan:
Komentar (Atom)
