Selamat Datang

Selamat Datang
Selamat Menikmati

1/05/2012

Matahariku

Aku rindu..

Pada tawamu yang selalu aneh di telingaku

Pada lelucomu yang sama sekali tak lucu namun tetap mampu memaksaku untuk tertawa

Pada ceritamu akan kisah para leluhur

Pada ceramahmu tentang kondisi politik-ekonomi negeri ini

Pada komentarmu saat menyaksikan tayangan di tv

Pada aturan dan prinsip hidupmu yang sering ku langgar

Pada raut wajahmu sesaat setelah kau membeli mie kering kesukaanku

Pada senyummu yang selalu sukar untuk ku tebak makna di baliknya

Pada keluhanmu akan sikap malasku

Pada suaramu saat menelponku dan menanyakan keberadaanku

Pada perhatianmu yang kadang ku rasa terlalu rinci

Pada dengkuranmu yang sering terdengar dibuat-buat

Pada permintaanmu yang selalu menyusahkanku

Pada marahmu yang selalu mampu memancing marahku

Pada mimpimu yang kadang terlalu tinggi

Pada nasihatmu yang selalu berulang kau sampaikan

Pada tingkah anehmu saat sedang berusaha romantis dengan perempuanmu

Pada kecupan dan pelukanmu saat ku memohon maafmu

Pada tangismu yang membuatku terluka

Padamu, pusat tata surya kehidupanku

Padamu, matahariku..

Setelah 10 bulan 23 hari kepergianmu

Nasihat Kuno

Dulu,,sang ibu sering memberikan nasihat 'keperempuanan' pada sang putri kecilnya.. Menceritakan bahwa perempuan itu bagaikan sebuah telur di ujung tanduk--gampang jatuh,dan bila jatuh,pecah,tak kan dapat disatukan kembali..
Sang ibu juga pernah berpesan bahwa perempuan harus memiliki malu 1000 kali lebih banyak,karena hanya rasa malu yang dapat menjaga agar sang putri kecil tidak 'salah jalan'..
Dan kini,setelah sang putri beranjak dewasa, ternyata zaman tak lagi sama.. Ia berada di zaman dimana malu telah hilang entah dimana,,zaman yang telah menggeser Tuhan ke tempat yang jauh dan tak dikenal lagi,,zaman dimana cinta tak lagi memiliki daya,,zaman dimana birahi lebih sering keluar sebagai pemenag,,zaman dimana nasihat sang ibu benar-benar terasa kuno.

Sang ibu kini tak lagi rajin memberikan nasihat 'keperempuanan'nya pada sang putri yang tak lagi 'kecil'.. Ia merasa bahwa putrinya telah tumbuh dewasa dan akan tetap memegang nasihatnya sekalipun ia menyadari bahwa sang putri tumbuh di zaman yang berbeda dengan zaman kala ia tumbuh.. Dan ia benar,sang putri memang tak pernah melupakan nasihat kuno itu,nasihat yang diturunkan dari perempuan sebelum sang ibu,,
hingga pada suatu waktu,sang putri ingin mencoba mengikuti arus zamannya dan sejenak melupakan nasihat kuno sang ibu. Sejenak,ia berusaha menyimpan nasihat kuno itu di sebuah lemari besi yang berada di antara akal dan hatinya,,
Entah karena do'a penjagaan sang ibu atas putrinya atau hanya kebetulan semata, sang putri 'terselamatkan' sesaat sebelum ia benar-benar menyelam dan terbawa pada deras arus zamannya..

Ia lalu pulang,mengingat kembali apa yang baru saja terjadi pada dirinya,,dan membuka kembali nasihat kuno sang ibu dari lemari besinya,,menatap sang ibu yang tengah terlelap,,dan dalam isak tertahan ia berbisik: ibu,,ku tak ingin Tuhan berfikir bahwa aku tak membutuhkanmu lagi..maafkan aku yang pernah mencoba melupakanmu..

-23 September 2011-

8/01/2011

Tawa Kita dan Tangis Mereka

Sejenak kita tertawa
Bermain dan terus tertawa bersama
Dan kita terbang tinggi
Melupakan apa yang sedang kita pijaki

Ingatkah, kawan,
Kita sedang berpijak di atas tangis
Tangis lautan yang diredam oleh beton
Tangis mereka yang akan segera kehilangan hidup
Tangis yang tak pernah terdengar oleh telinga kita
Karena telinga kita hanya ingin mendengar hiruk pikuk kota
Karena telinga kita hanya mendengar gelak tawa

Turunlah, kawan
Berhenti menatap jagad pramudita dari atas
Marilah sejenak kita pijakkan kaki pada tanah
Tanyakan pada hati, masih adakah cinta..
Tanyakan pada mereka, masih adakah ikan berenang riang di lautan
atau telah mati terlindas beton?
Turunlah, kawan..


(sesaat setelah tertawa di Trans Studio)

7/22/2011

...

Ku genggam erat smua cerita
Semua mimpi yang kita bangun
Jalan yang pernah kita tapaki
Senyum dan tangis yang kita bagi
..
Di atas ketidakpercayaanmu ku berdiri
Tetap mengiringi setiap jejakmu
Menari di atas tangis
Tangis yang lahir karena ketidakmengertianku
..
Jangan pernah lepaskan genggaman tanganmu
Dalam pelukmu ku dapati damai itu
Dalam hangat pelukmu ku temukan cinta itu
Jadi jangan pernah pergi, karena ku butuh kau..

7/02/2011

Jangan Tanya

..Pagi tadi, di kantor, 'si bos' mengajarkan bagaimana memilah-milah mana berkas yang penting, dan mana yang sudah layak jadi sampah,,
Dan malam ini, kau memintaku untuk tenang..
'tak perlu terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak penting', itu katamu..
Seandainya memilah pikiran tentangmu semudah memilah berkas kantor itu, tentu sudah ku lakukan tanpa harus kau instruksikan!
..
Ya,,benar katamu, aku memang terlalu bodoh untuk mengerti..
Tetapi karena kau t'lah mengetahui kebodohan ini,
mungkin lain kali kau bisa menyesuaikan diksimu dengan daya fikirku..
Ah, rasanya aku sedang tak ingin duduk di bangku pesakitan
kuserahkan pada guru bahasaku saja..
ya..ya..ya..dia yang terlalu bodoh mengajarkan bagaimana menyatukan premis untuk sebuah kesimpulan!!
..
Entah apa yang terjadi padaku sekarang!
Sedih,,tapi jangan tanya kenapa, sebab akupun tak tahu alasannya..air mata ini jatuh begitu saja!!
Marah,,ku mohon jangan tanya alasannya,,akupun tak mengerti..bahkan tak tahu marah pada apa atau pada siapa!!
Ingin teriak saja,,namun bersuara pun tak bisa..sekali lagi, sayang, jangan tanya..
..
Jangan anggap ini sebagai luapan kesedihanku atau amarahku
Sungguh, ku hanya ingin berbagi--sekalipun aku masih belum tahu apa sebenarnya yang sedang ingin ku bagi..
haha..bodoh memang!!
..
Ku hanya minta satu, sayang : jangan tanya 'kenapa??'

- 2 Juli 2011, 04.12am -

5/30/2011

sepi

pejamkan mata..

tarik nafas dalam-dalam..

resapi kedalaman jiwa..

dan nikmati sisa-sisa keindahan bumi Tuhan..

dalam kesendirian..

karena hanya sepi yang akan mengantarkan kita ke sana..



dan kita akan bertemu

di suatu padang jiwa..

aku,,kau,,dan sepi...

Bertemu

Kau menemuiku lagi,,
dalam diam..sepi 
dalam wujud yang tak sama 
dalam cerita yang lain
namun ku yakin itu kau
karena hanya kau yang mampu begitu
mayakinkan setiap pijakan kakiku,
atau meragukan setiap inginku..
membantuku memberi makna setiap kata,
atau mengaburkan cerita yang ku bangun..
Ahh,,kau selalu begitu..