Dulu,,sang ibu sering memberikan nasihat 'keperempuanan' pada sang putri kecilnya.. Menceritakan bahwa perempuan itu bagaikan sebuah telur di ujung tanduk--gampang jatuh,dan bila jatuh,pecah,tak kan dapat disatukan kembali..
Sang ibu juga pernah berpesan bahwa perempuan harus memiliki malu 1000 kali lebih banyak,karena hanya rasa malu yang dapat menjaga agar sang putri kecil tidak 'salah jalan'..
Dan kini,setelah sang putri beranjak dewasa, ternyata zaman tak lagi sama.. Ia berada di zaman dimana malu telah hilang entah dimana,,zaman yang telah menggeser Tuhan ke tempat yang jauh dan tak dikenal lagi,,zaman dimana cinta tak lagi memiliki daya,,zaman dimana birahi lebih sering keluar sebagai pemenag,,zaman dimana nasihat sang ibu benar-benar terasa kuno.
Sang ibu kini tak lagi rajin memberikan nasihat 'keperempuanan'nya pada sang putri yang tak lagi 'kecil'.. Ia merasa bahwa putrinya telah tumbuh dewasa dan akan tetap memegang nasihatnya sekalipun ia menyadari bahwa sang putri tumbuh di zaman yang berbeda dengan zaman kala ia tumbuh.. Dan ia benar,sang putri memang tak pernah melupakan nasihat kuno itu,nasihat yang diturunkan dari perempuan sebelum sang ibu,,
hingga pada suatu waktu,sang putri ingin mencoba mengikuti arus zamannya dan sejenak melupakan nasihat kuno sang ibu. Sejenak,ia berusaha menyimpan nasihat kuno itu di sebuah lemari besi yang berada di antara akal dan hatinya,,
Entah karena do'a penjagaan sang ibu atas putrinya atau hanya kebetulan semata, sang putri 'terselamatkan' sesaat sebelum ia benar-benar menyelam dan terbawa pada deras arus zamannya..
Ia lalu pulang,mengingat kembali apa yang baru saja terjadi pada dirinya,,dan membuka kembali nasihat kuno sang ibu dari lemari besinya,,menatap sang ibu yang tengah terlelap,,dan dalam isak tertahan ia berbisik: ibu,,ku tak ingin Tuhan berfikir bahwa aku tak membutuhkanmu lagi..maafkan aku yang pernah mencoba melupakanmu..
-23 September 2011-
1/05/2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar